Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 00:42 WIB

Mantan Nasrani yang Menjadi Murid Para Malaikat

Oleh : - | Sabtu, 18 Maret 2017 | 15:00 WIB
Mantan Nasrani yang Menjadi Murid Para Malaikat
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

MUHAMMAD bin al-Mudzaffar berkata, "Diriwayatkan kepada kami bahwa semula kedua orang tua Abu Mahfudz Maruf bin Fairuz al-Kurkhi adalah orang Persia yang beragama Nasrani. Keduanya menyerahkan pendidikan anaknya (Maruf) sejak dini untuk belajar menulis kepada seorang alim. Suatu hari sang guru memberi pelajaran, katakan, Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Dan Tuhan Ibu. Maruf membantah dengan mengatakan, Tuhan hanya satu. Kemudian sang guru memukulnya.

Guru pun melanjutkan pengajarannya untuk mengucapkan seperti yang semula. Lagi-lagi Maruf menolak, dia mengucapkan, Tuhan itu satu. Pada lain hari sang guru memukul dengan pukulan yang lebih keras, maka Maruf pun melarikan diri. Nampaknya kedua orang tua Maruf tidak mampu lagi bersabar. Hampir-hampir keduanya berputus asa karena sangat khawatir dengan pembangkangan Maruf. Akhirnya kedua orangtua Maruf berkata, Mudah-mudahan dia menemukan suatu agama yang berkenan di hatinya sehingga kita bisa turut memeluk agama itu.

Maruf, yang masih anak-anak itu terus berjalan mencari kebenaran sehingga bertemu dengan Ali bin Musa ar-Ridha, lalu menyatakan dirinya masuk Islam dihadapannya. Ia hidup dengan beliau dan membantu beliau dalam tempo yang tidak sebentar. Tak berapa lama kemudian, ia minta izin kepada Ali bin Musa untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia tiba di rumah pada malam hari, setelah mengetuk pintu, orang tuanya bertanya, Siapa? Maruf menjawab, Saya! Sebelum membuka pintu, orang tua Maruf bertanya, Sekarang kamu memeluk agama apa? Maruf menjawab, Islam. Kedua orang tuanya mempersilakan masuk dan memeluk Islam. Allah telah berkenan mengumpulkan keluarga ini dalam agama Islam."

Di antara riwayat yang sampai kepada kami adalah bahwa, "Maruf mengajarkan agama yang dipeluknya dengan ucapan-ucapan yang tidak disukai kedua orang tuanya. Sehingga si Ibu berkata kepada sang ayah, Anakmu ini masih sangat kecil, tidak pantas berkata-kata demikian. Jalan pikirannya telah dirusak oleh sebagian umat Islam, sebaiknya ia dilarang keluar rumah saja. Keputusan ini lebih baik untuk anak kita. Beberapa hari ia disekap dalam kamar rumahnya. Namun sang ayah tidak tega, lalu melepasnya. Akan tetapi Maruf malah kembali mengunci diri di dalam kamar. Ia tidak mau keluar sebelum kedua orang tuanya memaksa untuk keluar kamar, sampai-sampai sang ayah bertanya, Mau berapa lama lagi kamu akan mengunci diri dalam kamar?

Maruf menjawab, Ayah, sebenarnya ketika aku berada di dalam kamar ini, aku mendapatkan seseorang yang mampu memberi pencerahan yang ayah ibuku sangka bahwa dia merusak jalan hidupku dan berdampak buruk pada ayah ibu berdua. Ayah Maruf bertanya, Siapa dia? Maruf diam, tidak memberi jawaban. Sang Ayah marah kepada si Ibu, Ini gara-gara kamu! Anak kesayanganku jadi gila! Sang ayah lalu membawa Maruf pergi menemui seorang pendeta, untuk menceritakan kejadian tersebut dan agar pendeta bersedia menjampi dan mengobatinya.

Sang pendeta bertanya kepada Maruf, Siapakah yang dia maksud merusak jalan pikiranmu sehingga berdampak buruk kepada kedua orang tuamu?
Maruf menjawab, Hati kecilku! Dia senantiasa merenungkan siapa yang telah menciptakan langit dan bumi juga memikirkan mengapa bisa demikian indah!
Sang pendeta bertanya lagi, Kalau begitu, bagaimana menurut pendapatmu wahai Maruf mengenai renunganmu itu?
Maruf menjawab, Menurutku, di sana hanya ada satu Dzat yang mampu mengatur seluruh alam raya ini, tidak boleh ada seorang pun yang menyerupai Dzat itu. Sebab sekiranya ada tentu ia ingin berbuat seperti yang telah diperbuatnya.
Pendeta berkata, Kalau demikian, tetaplah kamu di situ, sebentar lagi aku datang menemuimu.

Kemudian pendeta kembali ke biaranya untuk mengambil tinta dan pena. Ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada Maruf, lalu menulis jawabannya. Selanjutnya pendeta berkata kepada Fairuz (ayah Maruf), Wahai Fairuz, Sekiranya engkau berkata kepadaku bahwa anak ini adalah anakku, tentu aku akan mengatakan bahwa dia adalah salah satu murid para Malaikat. Fairuz bersama anaknya pulang dengan perasaan bahagia. Maruf berkata, Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Ali bin Musa ar-Ridha, beliau pun berkomentar, Memang kamu salah satu murid para Malaikat." (Anba Nujabail Abna, hal. 185-187.)

[Sumber: 99 Kisah Orang Shalih]

 
Embed Widget

x