Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 17:06 WIB

Matinya Orang Beriman Istirahat dari Beban Dunia

Oleh : - | Kamis, 16 Maret 2017 | 08:00 WIB
Matinya Orang Beriman Istirahat dari Beban Dunia
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

RASULULLAH Saw, suatu ketika bersabda, "Tasbih bagi para lelaki, dan tepukan tangan bagi perempuan." (Hr. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzy dan Nasay)

Hadis mulia ini mengandung motivasi beramal dengan maksimal, dan meleburkan gerak dan diam pada Allah Taala.

Engkau telah banyak melihat dari komunitas kaum arifin, membuat isyarat mengenai kondisi ruhani, dan ketika hadir dihadapanNya, mereka menempelkan telapak tangannya. Jangan sampai anda menyangka bahwa isyarat mereka itu termasuk bertepuk tangan. Anda salah. Namun isyarat itu adalah bentuk kesirnaan gerakannya hanya bagi Allah, dan pada gerakan lain, hanya bagi Allah, karena mereka mati bersama Allah ketika mereka masih hidup. Karena itu Allah menghidupkan mereka, ketika mereka sedang mati.

Anak-anak sekalian, ketahuilah bahwa Allah Swt mempunyai para hamba yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah Swt, yang merindukan maut karena rindu kepada Kekasihnya, di samping ia sudah sangat tidak suka dengan kehidupan yang lama di dunia. Tak ada keindahan bagi mereka karena belum keluar dari dunia.

Mereka tergelisahkankan oleh lamanya di dunia, dan rindunya untuk cepat keluar dari dunia, lebih dahsyat dibanding orang yang kehausan air. Jika ajalnya tiba, malaikat maut dengan tujuh puluh ribu malaikat datang diutus Allah dengan penghormatan dan salam, sebagaimana firman Allah Taala:

"Orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat yang menyambut dengan penuh kebajikan sembari mereka berkata, "Salam kepadamu, masuklah kamu sekalian ke surga, dengan amal-amal yang kamu sekalian lakukan."

Begitu pula malaikat mendatangi orang beriman dengan aroma paling harum dan wajah paling tampan, lalu sang mukmin berkata: "Selamat datang, untuk apa kedatanganmu?"

"Untuk mengambil ruhmu, dengan cara mengambil ruh yang bagaimanakah yang paling kau senangi?" Tanya balik malaikat.

"Apabila aku sedang sujud," jawabnya.

Lalu malaikat itu melakukan sesuai permintaannya, lalu kedua penjaganya datang dalam salah satu mengatakan pada yang lain:"Kita punya sahabat dan saudara, telah tiba waktunya berpisah."

Lantas keduanya berkata bersamaan, "Semoga Allah membalas kebajikan padamu, dan mengampunimu. Engkaulah sebaik-baik saudara, dan engkau benar-benar orang beriman paling mudah, dan sebaik-baik langkah bagi dirimu."

"Wahai nafsu yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh kerelaan dan mendapatkan rida," dengan penuh riang dan santai gembira.

Lalu ruhnya bicara pada jasadnya, "Semoga Allah membalas padamu kebaikan dariku,engkau mencintai kebaikan dan orang yang berbuat baik. Dan engkau membeci keburukan dan mereka yang bebruat buruk, aku menitipkan dirimu pada Allah."

Sosok jenazah sedang lewat bertemu Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah ra, lalu beliau berkata, "Orang yang sedang istirahat, atau sedang menjadi beban."

"Siapa yang disebut orang yang istirahat?" beliau ditanya seseorang.

"Orang beriman bila mati istirahat dari beban dunia, dan kesengsaraan penghuninya, lalu ia berjumpa dengan rahmat Allah Taala. Sedangkan orang yang menjadi beban adalah orang yang menentang Allah Taala, dan apabila ia mati, para hamba dan Negara bisa istirahat."

Mamun as-Sulami ra, menegaskan, "Ketika Abdullah bin Muqatil ra, wafat kami turut memandikan, mengkafani, dan menguburnya. Tiba-tiba ada suara lembut dari langit, "Segala puji bagi Allah yang telah menyinambungkan pecinta dengan Kekasihnya, dengan hati rela dan mendapatkan kerelaanNya."

Santri dari Abu Abdullah mengatakan, "Aku bermimpi bertemu Abu Abdullah setelah wafatnya, dimana ia sedang membakar dupa di syurga. Lalu aku bertanya, "Hai Abu Abdullah, bukankah ini dilarang bagi kita?"

"Inilah perjalanan pelayan di Darussalam, di hadapan Yang Diraja Semesta.."

Dzun Nuun Al-Mishry ra, dimimpikan setelah beliau wafat, lalu ditanyakan padanya,"Bagaimana kondisimu?"

"Aku mohon pada Allah empat masalah, lalu Allah Swt memberikan dua saja, dan aku sedang menunggu yang dua itu."

"Apa semua itu?"

"Kukatakan: Ilahi, bila Engkau mengambil ruhku jangan Engkau pasrahkan pada Malaikat maut. Bila Engkau bertanya padaku, jangan engkau serahkan pada malaikat Mungkar dan Nakir. Dan jika Engkau merendahkan aku jangan Engkau serahkan pada Malaikat Malik. Dan bila Engkau memuliakan aku janganlah Engkau serahkan pada Malaikat Ridhwan."[Sufinews]

Komentar

 
Embed Widget

x