Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 29 Juni 2017 | 09:04 WIB

Mempersepsi Cuaca yang Tidak Menentu

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 10 Maret 2017 | 00:33 WIB
Mempersepsi Cuaca yang Tidak Menentu
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

"CUACA sedang tidak menentu." Demikian bunyi komentar paling banyak yang disuarakan masyarakat Surabaya minggu terakhir ini. Derasnya hujan dan jenis hujan yang mengguyur kota Surabaya ini tidaklah lazim. Kecepatan angin dan perputarannya juga di luar duga dan sangka. Ada banyak rumah yang rusak, tembok dan bangunan yang roboh, atap yang terbang dan pepohonan yang rontok dan roboh.

"Inilah nasib terburuk yang tak diduga," kata pemilik mobil Fortuner yang tertimpa robohan beberapa cabang pohon di jalan raya. Dia tidak menyadari bahwa di jalan raya yang lain ada mobil yang bukan hanya tertimpa cabang pohon melainkan pohon utamanya yang sangat besar dan mengakibatkan kematian beberapa penumpang di dalamnya. Masih mungkinkah ada musibah yang lebih besar lagi?

Apapun musibahnya, cobalah renungkan kata bijak berikut ini. Dalam bahasa Inggris dinyatakan begini. "Breathe. It's just a bad day, not a bad life." Dalam bahasa Madura dinyatakan begini: "Anyabeh. Jeriya pra' ar s ta' bhagus, benni ka'odi'en s ta' bhagus." Bahasa Indonesianya: "Bernafaslah. Itu hanya hari yang jelek, bukan kehidupan yang jelek."

Banyak sekali kesalahan yang kita lakukan dalam mempersepsi kejadian atau peristiwa kehidupan. Salah satunya adalah salah fokus. Sering sekali kita fokus pada satu kesedihan dengan melupakan seribu kebahagian. Akibatnya adalah bahwa akhirnya hidup ini menjadi penuh kemurungan, kesedihan dan keluhan. Satu titik hitam di tengah kertas lebar berwarna putih sering sekali menjadi fokus perhatian melebihi putihnya kertas yang sejatinya jauh lebih dominan.

Hari ini ada peristiwa menyedihkan? Jangan menangis terus. Tersenyumlah. Bukankah masih banyak nikmat yang bersamamu? Saya masih di sini, setia menyapamu dan mendoakanmu. Salam, AIM. [*]

 
Embed Widget

x