Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 26 Maret 2017 | 02:36 WIB
Hide Ads

Prinsip Hidup Orang Badui

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 7 Maret 2017 | 00:38 WIB
Prinsip Hidup Orang Badui
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

ORANG Arab gunung itu kelihatan lebih lugu dibandingkan dengan yang Arab kota yang kelihatan cerdas itu. Memang kebanyakan orang desa itu berpikirnya tak bermuatn politis, sederhana dan apa adanya. Pandangannya tentang hidup juga tak rumit dan tak dibikin rumit. Yang penting sudah bisa tidur nyenyak dn bisa makan untuk hidup maka sudah didefinisikan sebagai kaya.

Sementara definisi kaya orang kota sangatlah kompleks karena memasukkan kepemilikan tabungan, investasi dan perangkat hidup yang canggih serta mewah sebagai syarat. Ingin cepat merasa kaya? Tinggallah di desa.

Orang Arab gunung itu disebut dengan Arab Badui (A'rabi). Suatu hari diajak dialog oleh para pemulung kalimat bijak, "Dia ditanya: "Apakah luka yang tak bisa sembuh?" Jawabnya adalah: "Butuhnya orang mulia kepada orang hina yang kemudian ditolaknya." Lalu ditanya lagi: " Apakah kehinaan itu?" Dijawabnya: "Berdirinya orang berderajat di pintu rumah orang tak berderajat tapi kemudian tak diizinkan masuk."

Sungguh jawaban orang Arab gunung itu "mukul" sekali pada mereka yang pola hubungannya dengan orang lain tidaklah tulus dan pekerjaannya adalah mengejar urusan duniawi dengan menilai rendah urusan ukrawi. Betapa malu dan luka hatinya mereka yang mengemis kepada rakyat biasa untuk dipilih menjadi pemimpin atau wakil rakyat namun kemudian ditolak dan ditinggalkan begitu saja karena rakyat membaca sikap dan ucapannya sebagai rayuan lima tahunan. Tuluslah wahai para pemimpin dan wakil rakyat. Berwibawalah wahai para rakyat dengan menolak menjual suara dan menggadaikan iman.

Jawaban kedua adalah tak kalah "nusuk" ke relung hati. Menyadari bahwa ilmu dan agama adalah mutiara termulia dan termahal, masih saja ada orang berilmu dan beragama yang antri berdiri di depan pintu para pemilik harta dan kuasa demi untuk mendapatkan ceperan atau tetesan harta duniawi.

Celakanya, setelah lama menunggu, mereka ditolak untuk bertemu dan diminta antri lain waktu saja. Menghina dan meyakitkan, bukan? Bacalah sikap cendekiawan dan ulama masa lalu pada para menguasa dan pemilik modal harta. Tirulah.

Sungguh berat, namun kita harus belajar dan berusaha memperlakukan orang lain dengan ketulusan cinta dan penghormatan serta meletakkan sesuatu sesuai dengan nilainya. Salam pagi, AIM. [*]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x