Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 26 Maret 2017 | 02:35 WIB
Hide Ads

Anugerah dan Musibah

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 6 Maret 2017 | 00:08 WIB
Anugerah dan Musibah
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

"BELAJARLAH dari banyak guru sebagaimana lebah mengambil putik sari dari banyak bunga." Demikian ungkapan bijak yang selalu memotivasi saya untuk mendengarkan nasehat, berita dan cerita banyak orang dalam kehidupan saya. Bagi saya, setiap orang yang datang dalam kehidupan saya adalah hamba Allah yang darinya saya bisa mendapatkan pembelajaran hidup dengan berbagai variasinya.

Tadi malam saya diajak makan malam alumni haji 2014, saudara saya Bapak Haji R. Budi Setiawan dan ibu. Beliau adalah jagoan manajemen bisnis dan istrinya adalah dokter bedah. Sambil makan di restoran European Style Bandung beliau bercerita tentag anak gadis semata wayangnya yang sejak SMA sampai S1 kini telah hidup mandiri di London. Bagi kedua orang tua ini, anak adalah anugerah besar yang melebihi besarnya anugerah harta. Karenanya maka harta harus dikorbankan untuk anak, bukan sebaliknya.

Setiap tahunnya selalu kedua orang tua ini mengunjungi anaknya. Yang menarik bagi saya adalah nasehat singkat yang disampaikan sang Bapak setiap kali bertemu dan berbincang dengan puterinya: "Tunjukkan bahwa Islam itu baik, santun, damai dan cerdas." Nasehat ini ternyata cukup efektif mengawal perilaku anak dalam kehidupan. Saya hanya berkata dalam hati bahwa sungguh sahabat saya ini berlimpah anugerah.

Setibanya dari makan malam, di hotel telah menunggu saya saudara saya sang manajer group telekomunikasi terbesar Indonesia, Mas Haji Futuhal Arifin dan isteri. Beliau sahabat saya sejak saya S1 dulu, sekaligus alumni haji tahun 2010. Setelah banyak berbincang tentang percaturan politik dan drama kehidupan sosial anak negeri, kita pun berbincang tentang kisah hidup kita sendiri.

Di akhir perjumpaan, beliau bercerita bahwa baru saja ditipu seorang wanita dalam jual beli mobil Fortuner. Ratusan juta rupiah lenyap. Hati saya bergumam bahwa sahabat saya ini benar-benar sedih dengan musibah ini. Namun beliau tetap saja tersenyum sambil berkata:

"Mau diapain lagi, ya dijalani saja. Ternyata wanita itu menipu lebih 20 orang dengan modus yang sama. Teman sekantor saya ada 4 korban. Saya mau telpon Pak Kiai, eh ternyata Pak Kiainya juga tertipu." Kamipun tertawa.

Kalau anda mendapatkan anugerah, berbagilah agar banyak orang lain yang bisa ikut berbahagia. Kalau anda mendapat musibah, selalu ingatlah bahwa musibah itu tidak menimpa anda sendiri melainkan ada banyak orang yang senasib sepenanggungan. Salam, AIM. [*]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x