Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 26 Maret 2017 | 02:37 WIB
Hide Ads

Suami Boleh Nenen Istrinya di Masa Menyusui Bayi

Oleh : - | Selasa, 21 Februari 2017 | 10:00 WIB
Suami Boleh Nenen Istrinya di Masa Menyusui Bayi
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

BOLEHKAH seorang suami, karena dorongan seksual, misalnya, menetek kepadanya istrinya yang tengah dalam masa menyusui bayinya? Bagaimana Islam mengatur hal tersebut?

Pertanyaan ini bukan tidak lazim mengemuka di dalam obrolan terbatas pasangan suami istri. Kadang, bila memungkinkan, pertanyaan itu mengemuka juga dalam kajian diskusi fikih perempuan.

Menurut Ustaz Anshari Taslim, Lc, insya Allah hal itu tidak dilarang. Para suami boleh melakukannya. Tentu saja dengan syarat tidak menyakiti si istri dan tidak merugikan bayi Anda sendiri. Artinya, janganlah berlebih-lebihan.

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama, susuan yang menjadikan si anak mahram dengan ibu susunya hanya terjadi jika si anak tersebut masih berusia di bawah dua tahun. Sedangkan sebagian ulama seperti Daud Azh-Zhahiri dan para pengikutnya menyatakan, susuan itu tetap membuat haram menikah sekali pun yang menyusu sudah dewasa.

Pendapat jumhur (mayoritas) ulama lebih kuat berdasarkan dalil, antara lain, sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya susuan (yang membuat haram) itu hanya bila dalam keadaan lapar." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maksudnya, yang menyusu itu menjadikan air susu sebagai makanan pokoknya. Hal itu tentu saja hanya dilakukan oleh bayi yang masih menyusui, tidak mungkin orang dewasa menjadikan air susu wanita sebagai makanan pokok.

Hadits lain dari Ummu Salamah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Susuan itu tidak mengharamkan kecuali kalau melewati usus dan pada saat belum disapih." (HR. At-Tirmidzi, no. 1152). Artinya, jika si bayi sudah disapih berarti susuan berikutnya tidak menyebabkan dia haram menikahi penyusunya.

Ibnu Abbas juga pernah mengatakan, "Tidak ada susuan (yang menjadikan haram menikah) kecuali di usia dua tahun." (Riwayat Abdurrazzaq dalam kitab Al-Mushannaf juz 7 hal. 465 dari Ibnu Uyainah, dari Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas).

Pernyataan yang sama juga dilontarkan oleh Ibnu Masud tentang seorang suami yang menelan air susu istrinya lalu dia bertanya kepada Abu Musa Al-Asyari. Abu Musa menjawab istrinya jadi haram lantaran itu, tapi itu dikoreksi oleh Ibnu Masud dengan mengatakan hal yang sama dengan pernyataan Ibnu Abbas di atas. Akhirnya, Abu Musa menarik kembali pendapatnya sambil berkata, "Jangan bertanya kepadaku bila si cendikiawan ini (Ibnu Masud) masih ada di tengah kalian." (Riwayat lengkap dalam kitab Al-Muwaththa` karya Imam Malik, Pembahasan: Ar-Radha, Bab: Jami Maa Jaa`A Fii Ar-Radhaah, no. 1290).

Hal yang sama juga difatwakan oleh Umar bin Al-Kahththab RA, ketika seorang pria mengadukan telah menyetubuhi budak wanitanya, lalu istrinya datang dan menyusui si budak tersebut sambil mengatakan, "Demi Allah, sekarang dia sudah haram bagimu (untuk disetubuhi) karena aku sudah menyusuinya." Tapi ternyata Umar malah memutuskan kepada si pria ini, "Setubuhi saja dia, karena dia tetap menjadi budakmu. Susuan yang menjadikan haram itu hanya kalau (yang menyusu) masih kecil." (Riwayat ini disebutkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa`, no. 1289).

Dari kesemua riwayat di atas jelaslah bahwa bila seseorang yang sudah dewasa menyusu kepada wanita, maka hal itu tidak berpengaruh. Kecuali bila ada keadaan darurat seperti yang terjadi pada kasus Sahlah binti Suhail yang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang sulitnya ia berhijab dari Salim mantan budak Abu Hudzaifah suaminya. Lalu Rasulullah SAW memberi solusi dengan mengatakan, "Susuilah dia (Salim) maka dia akan jadi mahram bagimu." Padahal waktu itu Salim sudah dewasa. (Lihat Shahih Muslim, no. 1453). Wallahu alam. []

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x