Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 Maret 2017 | 17:04 WIB
Hide Ads

Menjadi Sederhana Tidaklah Sederhana

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 12 Januari 2017 | 01:08 WIB
Menjadi Sederhana Tidaklah Sederhana
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

SUDAH berapa miliarkah jumlah manusia yang hidup saat ini menjadi penghuni bumi bersama kita? Sudah berapa miliarkah jumlah semua manusia yang diciptakan Allah sejak Nabi Adam hingga kini?

Apakah mereka semua mengalami nasib yang totalitas tak sama satu dengan yang lainnya? Apakah tak ada di antara mereka yang memiliki pekerjaan dan kondisi yang sama dengan kita? Sepertinya, kita perlu menjawab dan merenungkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Orang yang merasa hanya dirinya yang menderita akan merasa bahwa dirinyalah manusia yang paling menderita. Orang yang merasa hanya dirinya yang sakit dan memiliki suatu penyakit akan menjadi orang yang terlarut dalam kesedihan penyakit itu. Orang yang merasa hanya dirinya yang pandai akan arogan dan berpotensi membodohi orang lain. Orang yang merasa hanya dirinya yang besar akan sombong dan berpotensi mengecilkan orang lain.

Menarik untuk merenungkan kalimat pendek Muhammad Kharbus "Anda tidak sendiri di alam ini. Selainmu merasa seperti yang engkau rasa, bahagia seperti engkau bahagia, bersedih seperti engkau bersedih."

Bacalah berkali-kali dan renungkan kembali betapa orang yang serupa rasa dan semisal nasib dengan kita adalah banyak. Kalau tidak percaya, bagi yang sedang sakit sempatkanlah ke rumah sakit. Begitu banyak yang tergeletak sakit lebih parah dengan kita. Yang merasa paling pandai, cobalah berkeliling ke banyak perguruan tinggi dan pusat-pusat penelitian, maka ditemukan banyak orang pandai di bidangnya. Yang merasa kaya dan selalu hidup dari hotel ke hotel yang paling berkelas, lihatlah betapa bukan hanya dia sendiri yang ada di hotel itu.

Biasa-biasa saja, wajar-wajar saja, sedang-sedang saja atau sederhana adalah sikap terbaik dalam hidup di dunia yang sementara ini. Meskipun demikian, sungguh menjadi sederhana itu tidaklah sederhana. Dibutuhkan latihan jiwa untuk mengendalikan emosi diri, egoisme diri dan keinginan diri. Bagaimana caranya?

Yang paling penting adalah teruslah belajar tentang hakikat kehidupan dan teruslah bersama dengan orang-orang yang paham hakikat kehidupan. Salam, AIM@ rest, Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget

x