Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 08:37 WIB

Pasangan Selingkuh? Energi Cinta Salah Tersalurkan

Oleh : - | Kamis, 12 Januari 2017 | 09:00 WIB
Pasangan Selingkuh? Energi Cinta Salah Tersalurkan
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

CINTA pada dimensi kemanusiaan dalam kehidupan rumah tangga adalah modal sekaligus tujuan. Ia menjadi modal karena dengannya kehidupan rumah tangga menjadi nyaman. Seluruh anggota keluarga mendapatkan pemenuhan apresiasi dan kasih sayang. Ini menjadi motivator dan penggerak suami-istri untuk menjalankan fungsi masing-masing dalam berumah tangga. Anak-anak pun akan bersikap dan bertindak sesuai harapan orang tua ketika pasokan cinta memenuhi rongga dada mereka.

Cinta juga menjadi tujuan, sebab berbagai komunikasi dan interaksi dalam rumah tangga akan melahirkan cinta dan kasih sayang. Itulah mengapa di antara rangkaian suasana yang bisa hadir dengan diciptakanNya manusia berpasang-pasangan adalah karunia cinta dan kasih sayang yang Dia tebarkan.

Permasalahan yang muncul adalah bagaimana energi cinta ini terus terpelihara dalam kehidupan rumah tangga. Pertama, yang mesti ditegaskan adalah bahwa sebetulnya energi cinta itu selalu ada. Akan tetapi energi ini ternyata tersalurkan bukan pada tempat yang semestinya. Betapa sering kita mendengar kejadian retaknya ikatan rumah tangga karena masalah perselingkuhan. Ini yang dimaksud dengan mis-flow dari energi cinta.

Kalau kita lanjutkan pada analogi energi, tidak jarang cinta mengalami masa-masa stagnasi. Ia tak bergerak. Akhirnya cinta menjadi seperti "energi potensial". Cinta masih ada, tapi ia tidak menampak dalam aksi-aksi yang dapat dirasakan. Ini bisa terjadi ketika suami-istri dalam keadaan lelah fisik dan jiwa, terselimuti oleh ego masing-masing, merasa menang sendiri, saling menyalahkan dan tidak mau saling mengalah. Dalam kondisi begini hilang segenap kreatifitas menggerakkan cinta. Masing-masing terjebak dalam status-quo stagnasi gerakan cinta.

Energi cinta itu masih ada. Ia seperti batu di ketinggian bukit yang menggelinding ketika tak ada lagi energi gesek yang menahannya. Ia seperti air yang terdiam dibalik sebuah tutupan, namun siap mengalir deras ketika tutupan itu terkuak. Apa yang terjadi ketika energi cinta makin membludak tertahan, tiba-tiba ada saluran-saluran lain yang memungkinkannya mengalir deras? Bagaimanakah kejadiannya suami-istri yang di rumahnya mengalami kebekuan cinta, tiba-tiba dihadapan mereka terbuka (atau mereka yang sengaja membuka) celah lain penyaluran cinta? Beginilah mekanisme perselingkuhan itu terjadi.

Tulisan ini bukan membahas kondisi di mana perselingkuhan menjadi "barang biasa" sebagaimana sering ditayangkan pada sinetron-sinetron di televisi. Pada kondisi ini mesti ada reformasi moral, sosial dan hukum yang mendasar. Tulisan ini ingin mengangkat masalah perselingkuhan yang terjadi pada mereka yang semestinya secara moral dan intelektual memahami bahwa perselingkuhan itu terlarang. Hanya saja dalam kondisi lengah, secara tidak disadari terjadi penyaluran energi cinta secara keliru.

Saat kebetulan membuka ponsel suaminya, seorang istri tiba-tiba mendapatkan bait kalimat "Mas, kapan kita bisa ketemu lagi? Udah kangen nih ". Sang istri terkejut sekali membaca ini. Ketika ia mengkonfirmasikan kepada suaminya, suaminya tidak bisa membantah. Sang suami hanya mengatakan," Iya, aku juga enggak mengerti tuh !" Tentu saja sang istri tidak terima dengan jawaban suaminya itu, ia pun berkata," Mas, enggak mungkin dia menulis begitu, kecuali Mas memang membuka kesempatan untuk itu!" Akhirnya sang istri menelpon si perempuan pengirim SMS dan mengingatkannya agar menghentikan hubungan yang sudah menjurus pada perselingkuhan.

Pada kisah di atas, sang istri sedang mengingatkan suaminya untuk tidak membuka celah penyaluran energi cinta pada tempat yang salah. Upaya-upaya pencegahan penyaluran energi cinta ke tempat yang salah memang mesti terus dilakukan. Benteng paling kuat adalah benteng pada hati setiap suami dan istri. Akan tetapi ini saja tidak cukup. Suami-istri pun mesti berusaha secara kreatif agar aliran energi cinta itu senantiasa mengalir di antara mereka.

Agar energi cinta ini senantiasa tersalurkan dengan baik, yang pertama kali mesti dilakukan adalah memohon bantuan kekuatan kepada Dia Yang Maha Mencintai. Dengan ini energi cinta menjadi langgeng dan tersalurkan secara benar. Yang kedua, komunikasi verbal harus senantiasa dipelihara. Jangan biarkan cinta terstagnasi dalam kebisuan rumah tangga. Yang ketiga, berikanlah impuls cinta dalam berbagai kesempatan. Impuls ini tak mesti besar. Ibarat dorongan ringan pada ayunan, ia akan terus membuat ayunan bergerak. Dan yang keempat, buatlah inovasi dan variasi dalam interaksi; Interaksi hati, interaksi pikiran maupun interaksi fisik. Manusia itu punya sifat "pembosan". Karenanya suami-istri mesti berlomba menciptakan kesegaran-kesegaran dalam interaksi mereka.

Wa Allahu alamu bish shawwab. [FCC/Aji Junjunan Mustafa]

 
Embed Widget

x