Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 29 Juni 2017 | 09:14 WIB

Siapa Bilang Rasulullah Tak Pernah Marah?

Oleh : - | Selasa, 25 Oktober 2016 | 08:00 WIB
Siapa Bilang Rasulullah Tak Pernah Marah?
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

MARAH kerap diidentikkan dengan aktifitas yang tercela atau buruk. Orang yang marah seolah jauh dari ajaran Islam. Padahal tahukah bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pun pernah marah. Jika marah diartikan buruk maka apakah perbuatan Rasulullah pun dianggap buruk yaitu ketika beliau marah?

Perlu kita sadari bahwa marah sesungguhnya tidak selalu buruk dan tercela. Ada marah yang terpuji. Dalam kondisi tertentu, Baginda Rasulullah pun bisa marah, tentu semata-mata karena Allah Ta'ala. Dalam sebuah riwayat dinyatakan,

"Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, ketika itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rasa marahnya." (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain juga dinyatakan, "Tidaklah Rasulullah membalas karena dirinya kecuali kehormatan Allah Ta'ala dilanggar sehingga beliau pun marah." (HR al-Bukhari)

Jabir pernah menuturkan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bila marah, dua matanya berwarna merah, suaranya meninggi dan kemarahannya mengeras hingga seperti seorang komandan memperingatkan pasukannya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, dalam banyak hal kita pun harus marah, misalnya: saat kehormatan Islam dilecehkan, saat orang-orang kafir mengolok-olok Islam, saat orang-orang liberal mengacak-acak alquran, saat para penguasa membuat UU yang bertentangan dengan Islam dan melakukan berbagai kezaliman, saat saudara-saudara sesama Muslim dihinakan bahkan dibantai tanpa belas kasihan, dsb.

Marahlah dalam hal tersebut karena marah yang demikian bukan hanya diperbolehkan tapi diharuskan. Seperti dikatakan dalam hadis Nabi ketika kita melihat sebuah kemungkaran.

"Jika mampu kita wajib mengubahnya dengan tangan (kekuasaan), atau dengan lisan (dakwah) atau dengan hatimeski itu menandakan iman yang paling lemah." (HR Muslim)

Lalu sudahkah kita marah akan kondisi kemungkaran yang merajalela saat ini? Setidaknya sudahkah hati kita membencinya? Jika tidak ada rasa marah sedikitpun, masihkah iman ada di sana?

[fauziya/muslimahzone]

 
Embed Widget

x