Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Juli 2016 | 22:57 WIB
Hide Ads

Soni Farid Maulana

Penyair Muda yang Merindu Tuhan

Oleh : - | Kamis, 9 Oktober 2014 | 17:12 WIB
Penyair Muda yang Merindu Tuhan
Soni Farid Maulana - (foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta--Soni Farid Maulana dilahirkan pada tanggal 19 Februari 1962, di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah anak dari pasangan R. Sarah Solihati dan R. Yuyu Yuhana bin H. Sulaeman. Soni lulus kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (kini Sekolah Tinggi Seni Indonesia) pada tahun 1986 dan jurusan yang dipilihnya adalah Teater.

Soni juga aktif menulis puisi, esai, prosa, dan laporan jurnalistik di Harian Umum Pikiran Rakyat. Puisi-puisi yang dibuatnya bukan hanya berbahasa Indonesia, tapi juga berbahasa Sunda. Sebagai penyair, Soni pernah membacakan sejumlah puisinya di berbagai acara, yakni South East Asian Writers Conference di Filipina (1990), Festival de Winternachten di Belanda (1999), Puisi Internasional Indonesia di Bandung (2002), International Literature Biennale 2005: Living Together di Bandung, dan sejumlah acara lainnya yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki.

Puisinya pun diterjemahkan ke berbagai bahasa, yakni ke bahasa Inggris, Jerman, Belanda, dan Cina. Kumpulan puisinya yang sudah terbit antara lain, Variasi Parijs van Java (2004), Tepi Waktu Tepi Salju (2004), Selepas Kata (2005-2005), Secangkir Teh (2005), Sehampar Kabut (2006), Angsana (2007), dan sebagainya. []

Beberapa Puisi Soni

ENVOI

akhirnya kau temukan aku meninggal

dalam pangkuan malaikat maut yang menangis

di arah kiblat. Ingin aku bertanya, apa yang kau

temukan di kamar tidurku yang berantakan

diporak-porandakan badai minuman keras?

keduniawian adalah minuman keras bagiku.

aku tahu, hanya kebisuan yang menyemak

dalam rongga dadamu. Pada hematku aku merasa

lebih baik di tempat di mana aku berada sekarang

meski aku belum tahu arah mana yang akan kujelang

kiri atau kanan.

ditinggalkan atau meninggalkan

adalah jam kematian yang tak bisa ditangguhkan

laju detiknya. Kopor-kopor doa yang kau siapkan

untukku; itu lebih baik-daripada kau-sibuk

menenggelamkan diri dalam palung airmata

yang kelam.

SEMACAM SURAT

untuk Sutardji Calzoum Bachri

jika itu yang kau maksud: memang

aku punya hubungan baik dengan ikan

di kolam; -- juga dengan warna ungu

teratai dalam lukisan Monet.

tapi kucing yang mengeong

dalam aortamu: -- rindu daging paling mawar

rindu susu paling zaitun,

yang harum lezatnya semerbak sudah

dari arah al-kautsar. Tapi, seberapa sungguh

kegelapan bisa dihalau: -- jika gerhana

membayang di hati? Seberapa alif mekar

di alir darah; -- jika setiap tasbih diucap,

yang berdebur di otak hanya ombak syahwat?

dji, tangki airmata selalu bedah di situ

2002

CIWULAN

aku mendengar suara ricik air sungai yang ngalir

di antara batu-batu dan batang pohonan

yang rubuh ke ciwulan

aku mendengar suara itu mengusik jiwaku

bagai alun tembang cianjuran

yang disuarakan nenekku di gelap malam

1979

DAUN

siapa yang tak hanyut

oleh guguran daun: ketika angin

mempermainkannya di udara terbuka

ketika lembar demi lembar cahaya matahari

menyentuh miring dengan amat lembutnya

siapa yang tak hanyut oleh guguran daun

ketika maut begitu perkasa

mencabut usia hingga akarnya, ketika matahari

menarik tirai senja, ketika keheningan

menyungkup batu-batu di dada. Siapa

yang tak hanyut oleh guguran daun: ketika

lobang kuburan ditutup perlahan, ketika

doa-doa dipanjatkan dengan suara tersekat

ketika kutahu pasti kau tak di sampingku

1980

SUARA TEROMPET AKHIR TAHUN

di ujung malam sedingin

es dalam kulkas;

apa yang kau harap

dari suara

terompet akhir tahun?

fajar yang menyingsing

tanpa bunyi kayu dilahap api,

tanpa tubuh yang hangus

seperti sisa bakaran kardus?

kita berharap

semisal tak ada kurap

di daging waktu

yang esok hari kita kunyah

dalam pesta kehidupan yang renyah?

tapi apa artinya berharap

dan tidak berharap,

bila langit muram terus membayang

seperti pengalaman yang kelam:

o, bunyi kayu yang hangus

dan tulang kepala yang meletus

dalam kobaran api di bulan Mei

yang ngeri di ini negeri?

di ujung malam sedingin

es dalam kulkas;

apa yang kau harap

dari ujung bunyi terompet

akhir tahun?

1998

SELEPAS KATA

untuk Kautsar M. Attar

perempuan itu terbaring di ruang bersalin

bayang-bayang sang ajal berkelebat dalam

biji matanya; memperkenalkan diriku

pada warna darah dan tanah. Dan kau yang

dilahirkan sore itu, tangismu keras,

air matamu adalah arus sungai yang deras

menyeret kesadaranku ke palung derita

seorang ibu, yang sisa amis darah

persalinannya; masih melekat di tubuhku,

yang kini rapuh dikikis waktu, digali detik

jam yang terus melaju ke dunia tak dikenal,

di luar hiruk-pikuk kehidupan kota besar;

ada yang menjauh dari surau dari kilau

telaga kautsar yang Dia berikan

2003

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget

x